header image
 

MEMANG

Sahabat, kutuliskan nama-Mu pada secarik kertas, di sela-sela tumpukan batu kata-kata yang malam ini harus kususun dan kuhafalkan dalam ingatan. Memang ada kewajiban yang esok harus kupentaskan, ada peran untuk dimainkan, ada topeng yang harus aku kenakan. Tetapi bukankah hidupku dan garis-garis nasabku Kauciptakan bukan hanya untuk sebuah pertunjukkan? Bukankah esok hariku adalah drama-Mu yang harus terwujud di dalam kenyataan? Sahabat, kutorehkan nama-Mu pada sebilah kayu bersilang di tempat dahulu Kau ambil tulang rusukku untuk menciptakan bagiku seorang perempuan. Di detak jantung itu telah kucangkokkan detil-detil nama-Mu yang menghangatkan deru bagi darah bagi otak bagi tubuhku, tempat Sabda-Mu esok akan kupentaskan. Memang, Sahabat, nama-Mu adalah nafas kehidupanku! Maka pula Sahabat, kusuntingkan nama-Mu pada sepucuk senyuman yang malam ini dengan hangat dan bangga kulayangkan. Seperti kembang api melesat dari tongkat si penyihir nama-Mu meledak menghamburkan bintang-bintang. Setelah lelah seharian. Setelah tawa dan cemas yang menyekapku dalam kesementaraan. Setelah hari berlalu dan kutahu: memang, Kau pagut aku seharian! Sahabat: memang!

(Surabaya, 3 Maret 2009)

JADI

Buat Nathalia

Kau kirimkan padaku pelangi. Apa artinya? Dan bagaimana mungkin aku dapat menangkapnya? Bukankah tanganku dicipta bukan untuk mencincang bayang-bayang? Dan bukankah ada perbedaan antara apa yang terlihat oleh mata dan yang terjangkau oleh tangan? Seperti dikatakan oleh sebuah suratan: sejauh-jauh mata memandang, tak semua terjangkau tangan?

Jadi: katakan apa arti semua itu? Tentu bukan maksudku untuk tak menghargai. Seperti halnya bahasa yang kupakai tak selalu bisa kau pahami. Dan bukankah hidup itu guratan nasib yang tak selalu bisa kau inderai? Yang ditentukan kadang oleh tangan-tangan yang bergandengan, kadang terlepas, kadang mengepal, kadang pula membuka dan membiarkan?

Jadi katakan: apa arti semua itu? Katakanlah bukan sebagai kesimpulan, tetapi sebagai permulaan. Yang menurut orang-orang suci, itu disebut: pengharapan!

Jadi katakan! Bukan padaku, tetapi pada alam yang kau agungkan. Katakan pada benda-benda yang kau ciptakan, yang sudah kau perjual, beli atau kau belanjakan.

Jadi katakan: apa arti semua itu! Bukan padaku, tapi pada hatimu yang sudah kau tambatkan. Katakan pada dirimu yang sudah kau sadarkan.

(Surabaya, 24 Oktober 2008)

KATA

Hanya satu: Kata! Itulah yang ingin kubingkiskan pada-Mu, Kawan. Bukan kata yang biasa disulut oleh lidah ular atau buaya, tapi kata yang dalam sunyi dirindui hati, nyali dan nyawa anak kecil manusia.

Hanya satu: Kata! Itulah, Sahabat, yang kugoreskan pada kulit tubuhku bagai tato yang selamanya akan di situ. Bukan dalam arti tubuh jasmani ini, tapi tubuh fantasi yang sering kutemui dalam mimpi, macam mana Kau berkata pada Thomas: “Dan jangan tidak percaya lagi!”

Dan hanya satu: Kata! Itulah jasad yang ingin kuonggokkan pada peti mati, jika suatu hari Engkau menepuk pipiku dan mengatakan: “Ayo pergi, sahabat, giliranmu kini!”

(Surabaya, 19 Oktober 2008)

JIKA

Seperti dulu di waktu kanak menangis hati ini mengharap yang tak terpenuhi, perjanjianku dengan sunyi malam ini mengetuk daun pintu-Mu tiada henti. Tak ada teriak tanpa berontak. Hanya nganga sebentuk lobang mengosong lonjong serupa jari-jari tanpa bidang mendasari, dan tanpa dasar yang membidangi. Sebentuk remuk dan remuk yang tak berbentuk yang puruk terantuk palung murung tak berujung. Hanya pada-Mu, dalam rupa huruf “U”, dan derai angin lalu.

Sahabat, adakah api yang tak akan pernah padam selain cinta-Mu yang disimbolkan Burung Merpati? Adakah bintang yang selamanya menyala terang selain tatap mata-Mu padaku di gegar Kayu Palang? Maka itu, Sahabat, semoga Engkau pun tahu mengapa tanpa henti aku menanti. Rinduku yang kumiliki hanya akan berarti jika tak kunjung Kau obati. Dan api yang kunyalakan bagi-Mu hanya akan berarti jika Engkaulah yang memadamkan.

Karrena itu, Sahabat, janganlah datang selagi aku menanti-nanti. Biarlah suntuk aku mengetuk menebal gapura pintu hati. Biarlah gugur daun-daun mudaku selagi musim beranjak semi. Biarlah rinduku membatu jati tanpa dapat aku bagi. Biarlah aku hanya bisa berkata: “Jika…”, alias membentuk huruf “U”,  yang selamanya menganga.

Seperti dahulu di waktu kanak, Sahabat, menangis hati ini mengharap tak terpenuhi, kuketuk-ketuk pintu-Mu malam ini tanpa sedetik mengharap pagi. Lalu, setelah lalu, hingga baptisku membentuk huruf “U” dimeterai oleh sunyi dan ditahbiskan dalam katedral Allah Bapa menjadi kata: “Jika…!”

Surabaya, 18 Oktober 2008

LALU

Selamat datang, Hujan!

Dengan turunnya hujan pertama di bulan ini, kututup sudah lembaran-lembaran kering yang penuh cekcok dan pertumpahan, yang biasa kita sebut: Engkau! Kini ada yang lebih perlu untuk dipersiapkan: memeriksa talang-talang rumah tangga dan selokan kebersamaan; membersihkannya dari daun-daunan kering, sampah plastik dan tanah-batu yang kerap menyumpal urat-urat kelegaan; menata ulang genting-genting kenyamanan yang telah tergeser terinjak angin, panas, debu dan waktu; kembali pada pokok bahasan yang biasa kita lupakan: Aku!

Turunnya hujan pertama di bulan ini bagiku merupakan waktu untuk kembali ke masa kini, yaitu menjadi seekor siput, berjalan dalam geliat lambat-lambat di bidang becek lembek-lembek dan memastikan bahwa program-program pribadi masa depan dapat berjalan. Sebab bukankah lazimnya sejarah kepemimpinan menjadi sindiran dan tertawaan? Bukankah tergantung pada kewarasan: siapa tertawa karena apa; dan tergantung pada kesehatan: apa disedihkan karena siapa?

Turunnya hujan pertama bagiku adalah tanah lapang untuk memperdamaikan: mur dan baut, wadah dan tutupku, hidup dan matiku, salib dan kebangkitanku. Memang adalah hak waktu untuk menggumpal dan mengeras jadi batu. Memang hak waktu untuk menguap dan membisu. Dan akan selalu begitu. Gumpalan-gumpalan hidupku yang semula darah tidak akan tetap menjadi darah. Zat itu di masa lalu memang darah, tetapi oleh perbuatan waktu telah terpisah dari sejarah dan hanya tinggal batu. Tapi kembali pada sejarah, yang sisa tinggal batu kini dalam genggamanku: untuk aku remuk atau bentuk, sekehendakku!

Turunnya hujan pertama adalah saat: lalu, kembali aku!

(Jatijejer-Surabaya, 8-13 Oktober 2008)

PROGRAM HIDUPKU (dari catatan 5 tahun lalu)

“Hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21)

Aku hidup dalam dunia dengan keindahan dan batas-batasnya. Dari pengalaman ke pengalaman, peristiwa ke peristiwa. Sehat-sakit, mujur-malang, berhasil-gagal, dikenang-dilupakan. Hidupku tak pernah lepas dari bumi pijakanku, namun aku memiliki impian, cita-cita, pengharapan, melampaui batas dunia. Hasratku mencari, mendamba, namun puncak dan muara tidak pada diriku. Juga tidak pada dunia. Hidupku dengan semarak dan kekerdilannya akan kutempatkan dan kuhargai sesuai martabatku: gambar diri Allah. Gambar diri Sang Nafas, Kekasih dan Bapa dunia. Meski hidup di alam fana, nasabku baka. Bersinar makna dalam partisipasi setuntasnya pada Tarian Agung Allah yang terus mencipta dan membaharui dunia demi cinta kepada umat manusia. Sumber Hidup dan Kekuatan. Segala yang kudamba, semua yang kucari, penuh dalam diri-Nya.

Gembala Utamaku Yesus, yang mengangkat aku menjadi saudara-sahabat dengan pengorbanan nyawa. Program Hidup-Nya melaksanakan kehendak Bapa. Mengasihi kerapuhan manusia, setuntasnya. Dia Kekasih yang mati agar manusia diangkat menjadi saudara-saudari dalam satu Bapa, hidup sebagai pelayan satu bagi yang lainnya. Dia mengajarkan jalan menuju keindahan hidup sesungguhnya: berkepedulian sebesar-besarnya terhadap yang kecil, sederhana. Di dunia ini Dia mati, namun Roh-Nya membangkitkan-Nya. Sukacita-kehormatanku adalah, aku boleh menjadi saudara-sahabat-Nya di dunia, dengan demikian menjadi saudara-sahabat selamanya. Keindahan hidupku adalah menderita bersama Dia. Sehat-sakit, mujur-malang, berhasil-gagal, dikenang-dilupakan, hidup-mati… bersama dan bersekutu dengan Yesus adalah jalan menuju keselamatan. “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21).

Dicintai oleh Yesus adalah kekuatanku yang utama. Karena Yesus, aku akan menjadi pribadi sempurna dalam cinta. Bahagia lewat jalan-jalan kecil sederhana. Menjadi orang rohani, sahabat bagi semua jiwa, alat dan tanda bagi perjumpaan Allah-manusia. Aku ingin menjadi pembawa damai bagi sesama. Terkemuka, dengan tidak menjadi apa-apa. Menjadi pertapa di dunia. Pendoa, menjalani hidup sebagai ungkapan cinta kepada Yesus Kristus Tuhan kita.

Sebagai imam dalam Gereja, aku akan peduli pada pertumbuhan seluruh umat manusia. Mengatasi sekat-sekat kepentingan demi kebaikan bagi semua. Setia dalam pelayanan, menjaga nurani kegembalaan. Berjuang dalam kebenaran, kebaikan, keadilan, kedamaian dan keutuhan. Mendahulukan kemuliaan Tuhan, tidak mencari kehormatan. Lewat tugas pelayanan aku ingin lebih memahami sabda: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis 20: 35).

Aku akan selalu mempunyai waktu meninjau langkah hidupku, menguji pilihan, mebaharui keputusanku. Aku akan menyediakan waktu mengalami kesegaran dan kesendirian bersama Tuhan. Menikmati kata-kata-Nya, merasakan penghiburan-Nya. Mengungkapkan cintaku kepada-Nya. Saat-saat hening dan jeda adalah saat berharga untuk mensyukuri karunia dan mengagumi tindakan-Nya. Relasi antarpribadi dengan orang-orang sekitarku adalah kesempatan menjadi tangan Tuhan secara nyata: menjadi alat penghiburan, meneguhkan dalam kesukaran, menghormati pilihan-pilihan, menjadi teman dalam perjalanan dan pencarian.

Aku akan senantiasa terbuka terhadap radikalisme Injil, dan memperjuangkan perwujudannya dengan segala daya upaya. Menjadi alat kuat bagi pembaharuan masyarakat dan Gereja. Berpandangan jauh, berwawasan luas, percaya akan masa depan, percaya akan kebersamaan. Percaya bahwa dalam tiap kesalahan, tersedia hikmat kebijaksanaan dan jalan menuju kebenaran. Percaya setiap orang mempunyai hak dan panggilan untuk hidup selayaknya. Cinta kasih adalah jalan dan kekuatan untuk mewujudkannya. Senantiasa belajar adalah cara terbaik membaharui dunia. Aku percaya setiap orang memiliki harta dalam dirinya. Memberi diri yang terbaik adalah sumber damai dan bahagia.

Dalam segala kesukaran aku akan menyandarkan diriku pada Tuhan. Dalam segala kelemahan kekuatan-Nyalah yang kuandalkan. Demikian Program hidupku. Kiranya Tuhan memberkatiku, dan menolong dalam segala kelemahanku.

Deus providebit.

Garum 28 Januari 2003.

P.C. Edi Laksito, Pr.

MAMA!

Yang kau butuhkan adalah kata itu, dalam kesempitan waktu! -satu-satunya tali penghubung antara rahim dan keabadianmu- Agar terkesan kereta terbang oleh tongkat sihirmu, yang sudah menderu ingin berlari meninggalkanmu -dan dengan begitu mencabut pula nyawamu? Dan bukankah kau katakan pada hati nuranimu: ingin selalu pulang, ingin selalu pulang! Yaitu: menginjakkan kakimu di atas sebuah bidang akrab antar-manusia, satu sama lain dengan yang terdekatnya, yang biasa kau sebut “tanah tumpah darah”? Yaitu: tempat di atasnya dahulu darahmu tertumpah, dan di atasnya lalu kau bangun sebuah kediaman di atas dasar batu-batuan yang kau sebut dengan mulia: “Gereja Rumah-Tangga”?

Mama! Begitulah buah-hati belahan-jiwa menyebutmu di telinga! Ketika angin berhembus meniup nyawa padanya, ketika air terhirup oleh dahaga akan hidupnya. Mama! Begitu buah-hati belahan-jiwa memanggilmu, selagi dapat berkata, selagi masih pula bernyawa! Dan bukankah yang kau butuhkan adalah kata? Karena itu pulanglah, pulang, Mama! Sejauh mata memandang hanya hamparan angan belaka. Sejauh hati menanti hanya lembaran sia-sia! Rindu anakmu, Mama, belahan-jiwa!

(Surabaya, 30 September 2008)

DERAP SERDADU

(1)

Malam itu derap sepatu serdadu-serdadu sewa melangkah kuda. Bayonet terhunus diujung rasa taat buta. Perintah haruslah terlaksana: Jangan ada nafas tersisa pada ujung hidung mereka! Seperti suara lebah kata demi kata mendengung terbang membawa nyawa melayang. Membunuh pula nurani para serdadu yang berlari. Seolah tak ada lagi darah gelisah dan kodrat manusia dalam tubuh mereka, pada hakikatnya!

(2)

Malam itu Jibril dan semua malaikat menyeru takbir membahana alam sorga: Allahuakbar! Allahuakbar! Dan hanya ruhani bisa mengerti pekik kemenangan sorgawi di tengah simbah darah ibu pertiwi. Di atas bumi entah siapa punya peperangan. Dalam badai nurani bagi siapa kemenangan. Pun bukankah hanya Allah Maha Mengetahui benar-salah buku sejarah?!

(3)

Malam nanti belati melesat dari layar televisi: menuding jidatmu, menggorok lehermu dan meringkus detak jantungmu!

(4)

Malam abadi sebuah pesan singkat dikirim atas peti jenazahmu: God Bless You! Dan begitu lelap tidurmu, sebuah hardik akan membangunkanmu: Ayo Bung, hari sudah lewat pagi!

(Surabaya, 1 Oktober 2008)

AKAR

“Ada sebuah sistem
yang perlu kau dekati tanpa harus
kau telanjangi
Sebuah konstelasi yang misteri
– dan kejahatan –
yang tak harus kau jahati
Kebaikan yang tak perlu kaupertanyakan
Duri yang mengingatkan
Api yang tak perlu kau besarkan
Sebuah kasus yang menjadi urusan hakim
dan dewan
yang bukan untuk kau pecahkan
Tantanganmu untuk bersyukur
atas hidupmu yang sebiji
kautumbuhkan
Hitam-manis
Dibentuk dan dikemas
jadi pantas
Yang tersandung dosa
dan telah disembuhkan”

Seperti itu pesan yang aku temukan
pada dasar piala yang Kau kirimkan,
Sahabat!
Mengingatkanku akan kata-kata-Mu
Menggodam Petrus, Si Batu Karang
selesai dia ayunkan pedang pada maltus
Si pengawal Rumah Allah
Hingga putus daun telinga

Maka ingin kugoreskan pula
sebaris pesan pada pialaku yang akan
kukirimkan pada-Mu
pada saat ajalku:
“Belajar kepada rumput
bergoyang sejauh hidup ditiup angin
Menunduk saat diinjak roda hidup
Senantiasa menyambung hidup
Dalam setiap cuaca
Menjadi akar, hanya akar
Sebagai dasar hidup
Sebagai hakiki hidup
Belajar untuk menjadi radikal
Sebagai kompas hidup
Agere contra!!”

(31 Agustus 2008)

BAHKAN TUHAN TURUT BERDUKA

Bahkan Tuhan turut berduka
Ketika malaikat-Nya menarik uban di kepala pak tua
lepas tercabut pula ajalnya
Bukan seperti cerita pahlawan di medan laga
Semisal Adipati Karna dan Resi Bisma
dalam Perang Bratayuda, tuntas sudah berdarma
Atau Epik modern: Raden Ajeng Kartini,
Sutan Syahrir dan Muhammad Hatta
Mencari hakiki universalitas manusia

Dan Tuhan pun berduka
Dinegeri berantah ini, cerita selanjutnya
Para pahlawan kesiangan
Bangkit dari kubur kedurnaan
Mencari tiket buat pak tua
Masuk dalam surga khayal mereka
Di Republik mimpi ini bandit
yang paling bandit
Mencari-cari secarik pengakuan
Buat pak tua tetap bertahta
Di sanubari rakyat yang dihantuinya

Bahkan Tuhan pun berduka
Ketika pengiring-pengiring duka lupa
Berdoa buat akhirat
Meski sekian lama ditentukan hari duka
Sibuk memberi gelar yang layak dimenangkan
Oleh pak tua dalam karir politiknya

Ya, bahkan Tuhan berduka
Ketika Dia harus mempertimbangkan
Sorga atau neraka
Mahkamah pengadilan-Nya sepi
Dari doa dan puja
Seolah sorga-neraka pak tua
Yang sesungguhnya sudah tak penting
Bagi para pengikutnya

Astaghfirullah!
Bahkan Tuhan pun berduka

(1 Februari 2008)