DI TERIK SENJA KOTA TUBAN
Di terik senja Kota Tuban
Angin tak mampu menghapus peluh
Orang-orang yang tak mau tinggal diam
Dari titik-titik tersebar:
Rembang, Lasem, Cepu, Blora
Jatirogo, Bojonegoro…
Berdatangan wajah bersimbah maksud
Dan pertanyaan. Dalam satu ruangan
Di rembang senja kota Tuban
Peluh mempertemukan model rambut
Dan warna kulit. Mempertanyakan tujuan
Akankah mereka sampai pada pilihan?
Cita-cita memang tak selalu dapat
Dipersamakan. Tetapi hidup bersama
Layak dipertahankan
Di terik malam kota Tuban
Hari diakhiri dengan doa dan harapan
Agar Air dan Angin Kehidupan
Memberi berkat keselamatan
(Januari 2008)

mo, aku suka pemenunganmu. nampaknya setiap kita tak henti berusaha memberi makna diri supaya tidak muspra. dan kita memang bisa jadi “hanya”, tapi juga bisa jadi “tidak hanya”. mohon doa ya kalau pas rm brevir ……………
bambang tjahjo said this on September 23, 2008 at 1:24 am