GARUM JALAN BATU
Sahabat, masih akan kulalui jalanan itu
Berdebu. Dan batu-batu, yang disemburkan
oleh Kawah Gunung-Mu
Masih akan seperti hamparan bunga kemuning
Jatuh di halaman rumput
Tempat dulu aku bermain-main
Masih akan kulalui senda gurau
Dan sepi malam kemarau
Di tengah lapangan beton yang dingin
Ditindih gambar besar si Orang suci
Dari Kawanan Kecil
(Demikian kerap aku melihat
Sekumpulan sahabat bergilir menoreh harap
Sambil berbaring-baring
Membilang kawanan bintang beradu pandang
Dan bersemuka dengan malam)
Sahabat, inilah arti garis
Yang Kauberi nama "Hidup"
Yaitu aku yang berujar dan merindu
Untuk menjadi selalu baru
Seluruh rentang waktu dari kelahiranku
Tak ada yang sungguh menggumpal jadi waktu
Selain garis itu: jalanan kecil, hitam batu
Yang jadi seperti pintu
Menyambutku bagai pulang ke rumah ibu
Inilah arti angin yang meniup watak luguku
Seperti sihir mendesir
Bekerja tanpa suara
Bergerak tanpa rupa
Dan menggodamku jadi sabit, cangkul
dan pisau dapur
Sahabat, waktu yang berlalu
Adalah masa kini yang membeku
Adalah aku yang rindu sapa hangat-Mu
Rindu pada jabat tangan-Mu
Rindu genggam-Mu pada bahu
Hangat-erat mengepal waktu
Mencair, mengalir dan mengukir
Ruang batin sesamaku
Sahabat, waktu yang berlalu
Adalah kodrat yang melahirkan rahmat
Seperti Ibu Maria, dahulu, melahirkan-Mu
Begitu pula aku yang lahir baru
Dari tuah kebangkitan-Mu di jalan batu
Jadi demikianlah kisah rinduku, Sahabat
Yang tumbuh di jalanan batu hitam debu:
Menatap nanap dalam harap
Mendekam diam dalam paham
Menggulir zikir sampai akhir
Bersama-Mu di jalan batu
Surabaya, 27 Mei 2008

Sahabat, waktu yang berlalu adalah kodrat yang melahirkan berkat bagi orang yang yang terbiasa memandang hidup sebagai mujizat.
tulus adalah sebilah kayu peraih wahyu bagi setiap orang yang khusuk merindu.
didik said this on June 6, 2008 at 10:56 am