header image
 

JAKARTA, SUATU MASA

Masih tetap kuingat, Sahabat
Jakarta, suatu masa:

Tanah ini, rumah ini, lantai-lantai ini
Dan tembok: menghamparkan cermin raksasa
Yang lama buat aku
Tak lagi mampu mengaca!
Siapakah ini, rambut ekor kuda?
Yang berdiri dan hati sesenggukan
Mengaca. Tak jua lihat wajah Bapa
Tak dengar lembut suara
Rupa pula tak dapat raba
Hanya basah. Air mata!
"Aku sendirian, Bapa
Telanjang kaki, ‘puluh mata memandang
Seperti butir peluru Kauayun
Pada jantungku
Dihunjam pada isi kepompong,
Apa nasibku?"
Demikian, katanya, kalau tidak keliru

Dan sekali Kauajarkan, Sahabat
Buat kami semua
Dalam detik-detik jam,
Berdoa, demikian:

"Bapa kami yang ada di surga
Lihatlah kami berkain putih
Bertutup mata hitam
Berdiri atas kaki telanjang
Pada-Mu kami berdoa:
‘Bukan kehendakku, ya Bapa
Tapi jadilah kehendak-Mu’
Bapa kami yang punya kehidupan
Di bumi ini ambillah nafas kami,
Tawa dan canda yang lepas tiap hari
Berilah kami rejeki
Di surga nanti, persis di bumi saat ini
Jadilah Kau hakim bijak bagi kami
Atas dosa dan kejahatan
Atas iman dan karya
Yang tidak seberapa
Dan pada saat Engkau berkenan
Bapa, bidikkanlah senapan
Agar rebahlah kami
Di Kau punya pangkuan.
Amin."

Demikian, Sahabat, masih kuingat
Jakarta pada suatu masa
Adalah buku pelajaran: bersama-Mu
Kami dapat bertahan!
Tangisan Kauubah jadi nyanyian
Ratapan jadi senyuman
Bagai malaikat di Hari Natal
Tiap wajah kami berlomba mengabarkan:
Gembira kami menjadi anak Tuhan

Dan kini setelah masa jauh di mata
Masih juga kuterima surat-surat-Mu
Memanggil ajal
"Mari ikutlah Aku, kawan,
Janganlah kau ketinggalan!"
Di bawahnya tertera tanda:
Dua kayu-Mu bersilangan
Surat-surat itu rapi kusimpan
Di jantungku yang telah Kau ledakkan
Dan kini tak lagi kutanyakan
Kemana nyawaku akan Kau larikan
Bukankah di jantung-Mu
Yang bagiku telah jadi santapan?

Karena itu, Sahabat, tetap saja kuingat
Jakarta, suatu masa

Surabaya, 26 Mei 2008

~ by nanglik on May 26, 2008.

2 Responses to “JAKARTA, SUATU MASA”

  1. selamat jumpa!!!! inilah berkat tekhologi, jauhnya jarak ??? luas dan besarnya jagad dapat dikuasainya, tetapi siapa yang mampu memenuhi kerinduan hati manusia ? SANG ADA ??!!!!
    Sugeng makarya, mugi panjenengan handadosaken berkah kagem sedaya umat.

  2. Yah…begitulah kira-kira… menghadap Sang Maha Tembok…

    Hanya…doa penyerahan total macam itu sungguh sangat menakutkan sekali…sebagaimana yg aku banyak kali alami… Jauh dari indah..

    L

Leave a Reply