header image
 

MAMA!

Yang kau butuhkan adalah kata itu, dalam kesempitan waktu! -satu-satunya tali penghubung antara rahim dan keabadianmu- Agar terkesan kereta terbang oleh tongkat sihirmu, yang sudah menderu ingin berlari meninggalkanmu -dan dengan begitu mencabut pula nyawamu? Dan bukankah kau katakan pada hati nuranimu: ingin selalu pulang, ingin selalu pulang! Yaitu: menginjakkan kakimu di atas sebuah bidang akrab antar-manusia, satu sama lain dengan yang terdekatnya, yang biasa kau sebut “tanah tumpah darah”? Yaitu: tempat di atasnya dahulu darahmu tertumpah, dan di atasnya lalu kau bangun sebuah kediaman di atas dasar batu-batuan yang kau sebut dengan mulia: “Gereja Rumah-Tangga”?

Mama! Begitulah buah-hati belahan-jiwa menyebutmu di telinga! Ketika angin berhembus meniup nyawa padanya, ketika air terhirup oleh dahaga akan hidupnya. Mama! Begitu buah-hati belahan-jiwa memanggilmu, selagi dapat berkata, selagi masih pula bernyawa! Dan bukankah yang kau butuhkan adalah kata? Karena itu pulanglah, pulang, Mama! Sejauh mata memandang hanya hamparan angan belaka. Sejauh hati menanti hanya lembaran sia-sia! Rindu anakmu, Mama, belahan-jiwa!

(Surabaya, 30 September 2008)

~ by nanglik on September 30, 2008.

Leave a Reply