JIKA
Seperti dulu di waktu kanak menangis hati ini mengharap yang tak terpenuhi, perjanjianku dengan sunyi malam ini mengetuk daun pintu-Mu tiada henti. Tak ada teriak tanpa berontak. Hanya nganga sebentuk lobang mengosong lonjong serupa jari-jari tanpa bidang mendasari, dan tanpa dasar yang membidangi. Sebentuk remuk dan remuk yang tak berbentuk yang puruk terantuk palung murung tak berujung. Hanya pada-Mu, dalam rupa huruf “U”, dan derai angin lalu.
Sahabat, adakah api yang tak akan pernah padam selain cinta-Mu yang disimbolkan Burung Merpati? Adakah bintang yang selamanya menyala terang selain tatap mata-Mu padaku di gegar Kayu Palang? Maka itu, Sahabat, semoga Engkau pun tahu mengapa tanpa henti aku menanti. Rinduku yang kumiliki hanya akan berarti jika tak kunjung Kau obati. Dan api yang kunyalakan bagi-Mu hanya akan berarti jika Engkaulah yang memadamkan.
Karrena itu, Sahabat, janganlah datang selagi aku menanti-nanti. Biarlah suntuk aku mengetuk menebal gapura pintu hati. Biarlah gugur daun-daun mudaku selagi musim beranjak semi. Biarlah rinduku membatu jati tanpa dapat aku bagi. Biarlah aku hanya bisa berkata: “Jika…”, alias membentuk huruf “U”, yang selamanya menganga.
Seperti dahulu di waktu kanak, Sahabat, menangis hati ini mengharap tak terpenuhi, kuketuk-ketuk pintu-Mu malam ini tanpa sedetik mengharap pagi. Lalu, setelah lalu, hingga baptisku membentuk huruf “U” dimeterai oleh sunyi dan ditahbiskan dalam katedral Allah Bapa menjadi kata: “Jika…!”
Surabaya, 18 Oktober 2008

Leave a Reply