KATA
Hanya satu: Kata! Itulah yang ingin kubingkiskan pada-Mu, Kawan. Bukan kata yang biasa disulut oleh lidah ular atau buaya, tapi kata yang dalam sunyi dirindui hati, nyali dan nyawa anak kecil manusia.
Hanya satu: Kata! Itulah, Sahabat, yang kugoreskan pada kulit tubuhku bagai tato yang selamanya akan di situ. Bukan dalam arti tubuh jasmani ini, tapi tubuh fantasi yang sering kutemui dalam mimpi, macam mana Kau berkata pada Thomas: “Dan jangan tidak percaya lagi!”
Dan hanya satu: Kata! Itulah jasad yang ingin kuonggokkan pada peti mati, jika suatu hari Engkau menepuk pipiku dan mengatakan: “Ayo pergi, sahabat, giliranmu kini!”
(Surabaya, 19 Oktober 2008)

Leave a Reply