header image
 

LALU

Selamat datang, Hujan!

Dengan turunnya hujan pertama di bulan ini, kututup sudah lembaran-lembaran kering yang penuh cekcok dan pertumpahan, yang biasa kita sebut: Engkau! Kini ada yang lebih perlu untuk dipersiapkan: memeriksa talang-talang rumah tangga dan selokan kebersamaan; membersihkannya dari daun-daunan kering, sampah plastik dan tanah-batu yang kerap menyumpal urat-urat kelegaan; menata ulang genting-genting kenyamanan yang telah tergeser terinjak angin, panas, debu dan waktu; kembali pada pokok bahasan yang biasa kita lupakan: Aku!

Turunnya hujan pertama di bulan ini bagiku merupakan waktu untuk kembali ke masa kini, yaitu menjadi seekor siput, berjalan dalam geliat lambat-lambat di bidang becek lembek-lembek dan memastikan bahwa program-program pribadi masa depan dapat berjalan. Sebab bukankah lazimnya sejarah kepemimpinan menjadi sindiran dan tertawaan? Bukankah tergantung pada kewarasan: siapa tertawa karena apa; dan tergantung pada kesehatan: apa disedihkan karena siapa?

Turunnya hujan pertama bagiku adalah tanah lapang untuk memperdamaikan: mur dan baut, wadah dan tutupku, hidup dan matiku, salib dan kebangkitanku. Memang adalah hak waktu untuk menggumpal dan mengeras jadi batu. Memang hak waktu untuk menguap dan membisu. Dan akan selalu begitu. Gumpalan-gumpalan hidupku yang semula darah tidak akan tetap menjadi darah. Zat itu di masa lalu memang darah, tetapi oleh perbuatan waktu telah terpisah dari sejarah dan hanya tinggal batu. Tapi kembali pada sejarah, yang sisa tinggal batu kini dalam genggamanku: untuk aku remuk atau bentuk, sekehendakku!

Turunnya hujan pertama adalah saat: lalu, kembali aku!

(Jatijejer-Surabaya, 8-13 Oktober 2008)

~ by nanglik on October 12, 2008.

One Response to “LALU”

  1. Mo… di sela-sela sibuk, kok masih bisa merenung-renung, dalem banget lagi…
    Gimana caranya spy bisa dapet “sesuatu” dalam “sesuatu” yg sederhana?? Suwun ‘mo…

Leave a Reply