MEMANG
Sahabat, kutuliskan nama-Mu pada secarik kertas, di sela-sela tumpukan batu kata-kata yang malam ini harus kususun dan kuhafalkan dalam ingatan. Memang ada kewajiban yang esok harus kupentaskan, ada peran untuk dimainkan, ada topeng yang harus aku kenakan. Tetapi bukankah hidupku dan garis-garis nasabku Kauciptakan bukan hanya untuk sebuah pertunjukkan? Bukankah esok hariku adalah drama-Mu yang harus terwujud di dalam kenyataan? Sahabat, kutorehkan nama-Mu pada sebilah kayu bersilang di tempat dahulu Kau ambil tulang rusukku untuk menciptakan bagiku seorang perempuan. Di detak jantung itu telah kucangkokkan detil-detil nama-Mu yang menghangatkan deru bagi darah bagi otak bagi tubuhku, tempat Sabda-Mu esok akan kupentaskan. Memang, Sahabat, nama-Mu adalah nafas kehidupanku! Maka pula Sahabat, kusuntingkan nama-Mu pada sepucuk senyuman yang malam ini dengan hangat dan bangga kulayangkan. Seperti kembang api melesat dari tongkat si penyihir nama-Mu meledak menghamburkan bintang-bintang. Setelah lelah seharian. Setelah tawa dan cemas yang menyekapku dalam kesementaraan. Setelah hari berlalu dan kutahu: memang, Kau pagut aku seharian! Sahabat: memang!
(Surabaya, 3 Maret 2009)

Leave a Reply